RUANG TERBUKA HIJAU (RTH)

16 Nov

193875_ruang-terbuka-hijau-jakarta_663_382

Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum yang terdapat pada Undang Undang (UU) Nomor 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang mensyaratkan ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit 30 persen dari luas wilayah kota harus berupa RTH yang terdiri dari 20% publik dan 10% privat, ini membawa konsekuensi setiap lahan yang kita tempati, idealnya minimal 70 persen digunakan untuk bangunan dan 30 persen untuk lahan hijau.

RUANG TERBUKA HIJAU

Ruang Terbuka Hijau atau disingkat RTH merupakan suatu bentuk pemanfaatan lahan pada satu kawasan yang diperuntukan untuk penghijauan tanaman. Ruang terbuka hijau yang ideal adalah 30% dari luas wilayah, selain sebagai sarana lingkungan juga dapat berfungsi untuk perlindungan habitat tertentu atau budidaya pertanian dan juga untuk meningkatkan kualitas atmosfer serta menunjang kelestarian air dan tanah.

Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Klasifikasi bentuk RTH umumnya antara lain RTH Konservasi/Lindung dan RTH Binaan.

Penyediaan dan pemanfaatan RTH dalam RTRW Kota/RDTR Kota/RTR Kawasan Strategis Kota/RTR Kawasan Perkotaan, dimaksudkan untuk menjamin tersedianya ruang yang cukup bagi:

  • kawasan konservasi untuk kelestarian hidrologis;
  • kawasan pengendalian air larian dengan menyediakan kolam retensi;
  • area pengembangan keanekaragaman hayati;
  • area penciptaan iklim mikro dan pereduksi polutan di kawasan perkotaan;
  • tempat rekreasi dan olahraga masyarakat;
  • tempat pemakaman umum;
  • pembatas perkembangan kota ke arah yang tidak diharapkan;
  • pengamanan sumber daya baik alam, buatan maupun historis;
  • penyediaan RTH yang bersifat privat, melalui pembatasan kepadatan serta kriteria pemanfaatannya;
  • area mitigasi/evakuasi bencana; dan
  • ruang penempatan pertandaan (signage) sesuai dengan peraturan perundangan dan tidak mengganggu fungsi utama RTH tersebut.

Ruang Terbuka Hijau Privat, adalah RTH milik institusi tertentu atau orang perseorangan yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas antara lain berupa kebun atau halaman rumah/gedung milik masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan. 10%

Ruang Terbuka Hijau Publik, adalah RTH yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah kota/kabupaten yang digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum. 20%
Contoh RTH Publik :

  • Taman Kota
  • Hutan Kota
  • Sabuk Hijau (green belt)
  • RTH di sekitar sungai, pemakaman, dan rel kereta api.

Sebanyak 72 kota di Indonesia belum mempunyai progres pengembangan RTH yang diwajibkan sebesar 30% dari total luas wilayahnya dan baru 26 kota saja yang mulai ikut mengembangkan lahan terbuka hijau yang targetnya mencapai 30%. Itu pun progres mereka hingga saat ini baru belasan persen.

Berdasarkan data Komunitas Hijau Indonesia :

  1. Blitar tercatat telah mengembangkan RTH terbesar, yaitu sebesar 17%
  2. Makassar 14%
  3. Pare-pare 14%
  4. Probolinggo (13,21%)
  5. Mataram (12%)
  6. Batam (8,3%)
  7. Tanjung Pinang (8,3%)
  8. Malang (7,8%)
  9. Salatiga (4,6%)
  10. Semarang (4,6%)
  11. Surakarta (4,6%)

Sedangkan 15 kota lainnya dikatakan belum mempunyai pengembangan yang cukup berarti.

  1. Banda Aceh
  2. Medan
  3. Bukit Tinggi
  4. Pariaman
  5. Sawahlunto
  6. Pagar Alam
  7. Bandar Lampung
  8. Metro
  9. Bogor
  10. Yogyakarta
  11. Kendari
  12. Gorontalo
  13. Bau-Bau
  14. Palu
  15. Ambon

Mengenal Ruang Terbuka Hijau
Keterangan :
KDB = Angka yang menyatakan jumlah (persentase) luasan lahan yang boleh dibangun.
Nilai KDB 80% artinya suatu area harus menyediakan RTH sebesar 20% dari total luas lahan yang akan dibangun.
Nilai KDB berbeda – beda untuk setiap wilayah tergantung peruntukan lahan dalam rencana tata kota.

Kota Depok

Sebagaimana kita ketahui berdasarkan data analisis Revisi RTRW Kota Depok (2000-2010) dalam pemanfaatan ruang kota, kawasan pemukiman pada tahun 2005 mencapai 8.915.09 ha (44,31%) dari total pemanfaatan ruang Kota Depok.

Pada tahun 2005 kawasan terbuka hijau tercatat 10.106,14 ha (50,23%) dari luas wilayah Depok atau terjadi penyusutan sebesar 0,93 % dari data tahun 2000. Meningkatnya tutupan permukaan tanah, berdampak terhadap penurunan kondisi alam Kota Depok, terutama disebabkan tekanan dari pemanfaatan lahan untuk kegiatan pemukiman yang mencapai lebih dari 44,31 % dari luas wilayah kota. Sementara luas kawasan terbangun tahun 2005 mencapai 10.013,86 ha (49,77%) dari luas wilayah Kota Depok atau meningkat 3,59 % dari data tahun 2000.

Luas kawasan terbangun sampai dengan tahun 2010 diproyeksikan mencapai 10.720,59 ha (53,28%) atau meningkat 3,63 % dari data tahun 2005. Sementara luas  ruang terbuka (hijau) pada tahun 2010 diproyeksikan seluas 9.399,41 ha (46,72%) atau menyusut 3,63 % dari tahun 2005.

Diprediksikan pada tahun 2010, dari 53,28% total luas kawasan terbangun, hampir 45,49% akan tertutup oleh perumahan dan perkampungan. Jasa dan perdagangan akan menutupi 2,96% total luas kota, industri 2,08% total luas kota, pendidikan tinggi 1,49% total luas kota, dan kawasan khusus 1,27% total luas kota.  Meningkatnya jumlah tutupan permukaan tanah  tersebut, ditambah dengan berubahnya fungsi saluran irigasi menjadi saluran drainase, diprediksikan akan menyebabkan terjadinya genangan dan banjir di beberapa kawasan, yang berdampak terhadap penurunan kondisi Kota Depok.

RTH Kota Depok sekarang ada 15,28 persen.

Analisis perubahan penggunaan lahan ruang terbuka hijau di wilayah Jakarta Timur

Pembangunan kota yang semakin berkembang di Indonesia, di DKI Jakarta khususnya berdampak pada perubahan penggunaan lahan di Jakarta Timur. Peningkatan kegiatan pembangunan fisik perkotaan selain berdampak positif terhadap peningkatan kegiatan perekonomian, juga berdampak negatif yaitu terjadinya penurunan kualitas lingkungan. Salah satu penurunan kualitas lingkungan tersebut adalah penurunan luas lahan ruang terbuka hijau (RTH) menjadi lahan terbangun. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola perubahan RTH, mengetahui laju pertumbuhan penduduk dan perkembangan wilayah di Jakarta Timur,serta mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan luas RTH. Hasil penelitian menunjukkan pada tahun 2002 luas RTH di Jakarta Timur sebesar 830,6ha dan pada tahun 2007 meningkat menjadi 1.056,7ha. Dengan demikian, pada periode 2002-2007 terjadi peningkatan luas RTH sebesar 226,1 ha. Selanjutnya laju pertumbuhan penduduk dari tahun 2002 sampai 2008 di Jakarta Timur sebesar 0.9 % per tahun, dan laju pertumbuhan pendatang pada periode yang sama sebesar 0.7 % per tahun. Perkembangan wilayah salah satunya dicirikan dengan berkembangnya sarana-prasarana yang terdiri dari fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan fasilitas ekonomi. Laju pertumbuhan fasilitas pendidikan, kesehatan, ekonomi tahun 2003 dan 2006 masing-masing adalah -1.5 %, 6.4 %, dan 1.1 % per tahun. Sebagian besar kelurahan yang berada di Kawasan Jakarta Timur berdasarkan tingkat perkembangan wilayahnya pada tahun 2003 dan 2006 adalah berhirarki III. Pada tahun 2003 ada 40 kelurahan yang berhirarki III, 18 kelurahan yang berhirarki II, dan 7 kelurahan yang berhirarki I. Pada tahun 2006 kelurahan yang berhirarki III menurun menjadi 35, sedangkan yang berhirarki II dan I meningkat masing-masing 19 dan 11 kelurahan. Faktor yang berpengaruh sangat nyata (p-level≤ 0.05) terhadap perubahan luas RTH adalah ketersediaan lahan kosong. Sementara itu, faktor yang berperan nyata (p-level> 0.1)dalam mempengaruhi perubahan luas RTH di Jakarta Timur adalah pertambahan jumlah fasilitas kesehatan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: